Aneh bin Ajaib, Jadi Runner Up di Pileg, Golkar Cuma Membebek Prabowo

JAKARTA, RIMANEWS – Digadang-gadang publik akan ada tiga pasangan kandidat pemimpin Indonesia pada ajang Pemilihan Umum (Pemilu) tahap pemilihan presiden (Pilpres) Juli mendatang, ternyata telah hampir pasti hanya dua pasangan yang maju. Pasangan pemimpin klasemen popularitas dan elektabilitas versi lembaga survey, Jokowi-Jusuf Kalla (JK) ditantang pasangan jenderal-birokrat, Prabowo-Hatta Rajasa. Poros Jokowi didukung PKB dan Nasdem. Lawannya, disokong banyak partai, salah satunya Golkar. Syahdan, Partai Golkar yang mendulang suara terbanyak kedua di Pileg 9 April lalu di luar dugaan berlabuh ke kubu Prabowo. Lebih mengejutkan lagi, partai warisan mantan presiden Soeharto ini merestui Prabowo menggandeng Hatta sebagai wakilnya. Aneh bin ajaib bin mencurigakan, kata pengamat. Baca Juga Jokowi Abaikan Kasus-Kasus HAM Adu Jotos Golkar KPK Tetapkan Anggota DPR Golkar Tersangka Baku Hantam Sesama Kader Golkar, Novanto: Hanya Salah Paham Buntut “Kita Indonesia”: Kronologi Pemukulan Sesama Anggota Golkar “Ya, sepakat saya, ini sungguh mengejutkan, sangat, sangat mengejutkan. Tidak cuma merapat ke koalisi Gerindra tetapi tidak mengajukan diri sebagai wapres. Ini aneh bin ajaib bin mencurigakan. Publik bisa menilai dengan mudah bahwa ini adalah model atau gaya mainnya Golkar. Secara fisik perjanjian koalisinya dengan satu poros, perjanjian di atas materai, tapi sesungguhnya dia pegang kartu juga di poros yang lain,” kata Andar Nubowo, Direktur Eksekutif IndoStrategi, kepada RIMA ketika dihubungi di Jakarta, Senin (19/5) malam. Dengan strategi politik yang demikian, Golkar akan meraup keuntungan apapun hasilnya, lanjutnya. Golkar memiliki representasi di koalisi PDIP, meskipun tidak eksplisit dibahasakan secara verbal, yakni JK yang dipinang Jokowi sebagai cawapres. Pada saat yang sama, tinggal menunggu waktu kontrak koalisi Golkar dengan Gerindra cs ditanda tangani. “Kalau gaya politik yang lurus, yang lebih banyak dapat suara di Pileg lalu pasti lebih punya kuasa untuk memimpin koalisi sekaligus menentukan siapa dan siapa yang maju menjadi pasangan RI-1 dan RI-2. Tapi ya inilah politik, inilah Golkar Meskipun jadi runner up di Pileg tapi karena tidak punya sosok yang popularitas dan elektabilitasnya bisa menyaingi Jokowi atau Prabowo, akhirnya merapat ke Prabowo mereka,” Andar menerangkan. Ditanya mengapa Prabowo, bukan Jokowi, Andar menganalisa ada persoalan yang tidak bisa disepakati antara Golkar dan PDIP. “Kalau dari sisi komunikasi politik, saya amati Golkar tidak menemui apa yang diinginkannya jika bergabung dengan koalisi Jokowi. Sementara dalam koalisi Gerindra, peluang agar keinginan Golkar di hajatan bagi-bagi kue kekuasaan ini masih terbuka,” kata Andar. Meskipun Rapimnas telah usai diselenggarakan, Andar percaya ada faksi di dalam Golkar yang tidak menyetujui hasil Rapimnas. “Oke Rapimnas memang sudah bulat mendukung Prabowo-Hatta, tapi tentu saja ada faksi yang tidak begitu bahagia dengan keputusan itu dan sangat mungkin lebih cenderung mendukung JK yang berada di lingkarannya Jokowi,” tegasnya. (Maghfurrodhi) Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Fokus Isu , golkar , pilpres 2014 , Jokowi-JK , Andar Nubowo , IndoStrategi , Rapimnas Golkar 2014 , Fokus Isu , golkar , pilpres 2014 , Jokowi-JK , Andar Nubowo , IndoStrategi , Rapimnas Golkar 2014 , Fokus Isu , golkar , pilpres 2014 , Jokowi-JK , Andar Nubowo , IndoStrategi , Rapimnas Golkar 2014

Sumber: RimaNews