Ketua Tim Kampanye Trump Mundur

New York – Paul Manafort, ketua tim kampanye calon presiden Amerika Serikat Donald Trump, mengumumkan pengunduran dirinya, Jumat (19/8) waktu setempat. Tidak ada alasan jelas yang disampaikan, namun keputusan itu terjadi setelah Trump melakukan perombakan besar-besaran di timnya yang mengurangi peran Manafort, dan ketika kandidat dari Partai Republik itu makin tertinggal dari lawannya Hillary Clinton di berbagai jajak pendapat. Dalam pernyataannya, Trump memuji Manafort sebagai seorang “profesional sejati” dan menghargai hasil kerjanya selama ini. Kaitan dengan Ukraina Putra Trump, Eric, mengatakan masa lalu Manafort yang bekerja untuk mantan presiden Ukraina dukungan Rusia menciptakan masalah. “Saya kira ayah saya tidak mau teralihkan oleh apapun yang pernah dilakukan Paul,” kata Eric. Pada Jumat, anggota parlemen Ukraina yang juga mantan wartawan investigasi, Serhiy Leshchenko, menerbitkan laporan beberapa halaman berisi dokumen-dokumen yang dirahasiakan terkait partai politik di Ukraina yang pro-Rusia. Dokumen itu menyebutkan bayaran sebesar US$ 12,7 juta untuk Manafort, yang sebelumnya telah membantah tuduhan serupa. Leshchenko mengatakan: “Secara sistematis, selama bertahun-tahun dia telah menerima uang haram dari Partai Kawasan (Party of Regions). Kami telah mendapatkan dokumen yang sayangnya tidak bisa ditunjukkan karena merupakan hasil investigasi rahasia.” Party of Regions dulunya dipimpin oleh presiden terguling Viktor Yanukovych, yang sekarang dalam perlindungan Rusia. Manafort berperan ketika Yanukovych terpilih sebagai presiden Ukraina pada 2010, sebelum kemudian digulingkan pada Februari 2014. Diduga Manafort secara diam-diam mentransfer dana US$ 2,2 juta dari Ukraina ke dua firma pelobi di Washington, tindakan yang ilegal menurut hukum di Amerika. The Associated Press memberitakan adanya sejumlah surat elektronik yang mengindikasikan bahwa firma milik Manafort secara langsung melakukan lobi tertutup atas nama Party of Regions, dalam upaya untuk menyetir pendapat publik di Amerika agar berpihak kepada pemerintahan Yanukovych. Operasi lobi ini termasuk upaya mendapatkan pemberitaan positif tentang para pejabat Ukraina di media-media besar AS seperti The New York Times , The Wall Street Journal dan The Associated Press . Tujuan lain dari lobi ini adalah menghalangi simpati bagi Yulia Tymoshenko, calon presiden yang dikalahkan Yanukovych dan kemudian dipenjara. Saat itu, para pemimpin Eropa dan Amerika mendesak Ukraina untuk membebaskan Tymoshenko. Heru Andriyanto/HA Euronews

Sumber: BeritaSatu