Mempensiunkan Buku di Ruang Kelas

Rimanews – Kapankah anak-anak belajar di sekolah dengan perangkat teknologi tanpa menulis lagi di atas kertas? Ambisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menggunakan buku pelajaran elektronik bagi siswa di sekolah mulai jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas perlu terus didorong hingga terealisasi secara menyeluruh. Memanfaatkan kemajunan teknologi informasi dan komunikasi saat ini di semua lini kehidupan, salah satu di antaranya pada ranah pendidikan, sudah merupakan keniscayaan. Baca Juga Ciptakan rekayasa kopi luwak, mahasiswa ini raih medali emas Umrah Lebih dari Sekali Kena Biaya Visa SDIT Al Bina Juara Kompetisi Dokter Kecil Mahir Gizi Tengoklah suasana di tempat-tempat umum, misalnya saat sebuah keluarga sedang mudik Lebaran. Ketika di perjalanan di kereta api, bus, kapal atau pesawat terbang, anak-anak baik yang seusia siswa taman kanak-kanak maupun yang berusia belasan tahun, selalu tampak mengisi waktu perjalanan mudik dengan bermain sukan atau “game” dengan gawai berupa tablet alias sabak elektronik. Artinya, semakin banyak anak-anak yang memiliki perangkat teknologi untuk permainan dan pendidikan itu. Tentu, untuk anak-anak dari kelompok ekonomi bawah, memiliki gawai semacam itu masih merupakan impian. Itu sebabnya, meskipun sejak 2008 Kemendikbud mencanangkan buku elektronik sekolah, hasrat untuk memanfaatkan buku elektronik secara menyeluruh belum bisa diwujudkan. Saat pencanangan buku elektronik itu dilakukan, dampaknya memang cukup menggelisahkan bagi penerbit buku. Kini melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2016 tentang Buku yang Digunakan oleh Satuan Pendidikan, Kemendikbud membuka kembali keterlibatan swasta menyediakan buku teks pelajaran bagi siswa dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas. Terbitnya Permendikbud itu tentu kabar gembira bagi kalangan penerbit, yang akan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan bisnis penerbitan mereka. Namun, kabar gembira itu sekaligus bisa menjadi kabar duka bagi orang tua siswa yang akan menjadi konsumen produk mereka. Para orang tua siswa pernah mengalami masa kelam ketika para penerbit dan kepala sekolah bersekongkol untuk memperdagangkan buku-buku pelajaran kepada siswa. Dengan kiat dagang para penerbit yang antara lain memberikan sebagian keuntungan mereka ke kepala sekolah, orang tua siswa tak bisa berkutik untuk menampik membeli buku-buku yang diperdagangkan itu. Sesungguhnya, pencanangan buku elektronik sekolah pada 2008 itu sebuah revolusi pendidikan yang akan berdampak luar biasa jika pemerintah saat itu secara serius mewujudkan pemelajaran digital kepada siswa mulai sekolah dasar hingga menengah atas. Pemerintah bisa memulai dengan proyek-proyek percontohan di sejumlah sekolah di perkotaan. Pemerintah bisa bekerja sama dengan badan usaha milik negara untuk menyediakan perangkat keras atau gawai dan menyediakan ruang kelas dengan Wifi. Dengan perangkat sabak elektronik dan Wifi, guru memandu siswa belajar secara digital dan mengevaluasi proses itu. Sudah delapan tahun berlalu sejak pencanangan buku pelajaran elektronik itu. Namun, karena belum sepenuhnya dilaksanakan secara serius dampaknya juga belum kentara. Bahkan di sebagian besar sekolah swasta favorit yang berbiaya mahal, metode pemelajaran digital itu tak terselenggara sama sekali. Ini cukup memprihatinkan mengingat siswa di sekolah itu berasal dari kalangan keluarga menengah atas dan setiap siswa di sana memiliki perangkat teknologis berupa gawai dalam bentuk sabak elektronik. Mengapa pemelajaran digital itu tak terselenggara sebagai mana mestinya, agaknya pertanyaan itu bisa ditebak jawabnya. Pertama, kemungkinan lobi para penerbit masih cukup kuat dalam memperdagangkan buku-buku mereka ke kepala-kepala sekolah. Kemungkinan kedua, pemelajaran elektronik menuntut kemahiran guru-guru dalam memanfaatkan teknologi baru itu dan belum semua guru memiliki kemahiran itu. Akibatnya, pemelajaran digital yang diidamkan banyak kalangan konsumen pendidikan belum terealisasikan bahkan untuk lingkup sekolah swasta favorit yang paling siap sekalipun. Dengan terbitnya Permendikbud Nomor 8 Tahun 2016 itu, diperkirakan kegairahan dan tekad untuk menggunakan buku pelajaran elektronik kian terbenam dan digantikan oleh kehadiran buku-buku oleh penerbit swasta yang mulai bergairah menyambut undangan Kemendikbud untuk menerbitkan buku-buku pelajaran baik jenis teks maupun nonteks bagi siswa sekolah. Sebetulnya, Kemendikbud tak perlu mengundang penerbit untuk menerbitkan semua mata pelajaran di sekolah. Untuk pelajaran-pelajaran ilmu dasar seperti matematika, bahasa relatif tak banyak mengalami perkembangan. Untuk itu, buku-buku terbitan sebelumnya masih bisa digunakan. Bahkan buku-buku jenis itu bisa menggunakan versi elektronik yang bisa diakses secara gratis atau digandakan dengan biaya yang sangat murah. Kombinasi penggunaan buku pelajaran elekronik dan buku konvensional barangkali merupakan jalan tengah yang ideal untuk ditempuh. Sinkronisasi pola hidup anak-anak terkait dengan pemanfaatan gawai antara di sekolah dan di luar sekolah agaknya sudah menjadi keharusan saat ini. Dengan demikian, gawai yang dimiliki anak-anak tak hanya berfungsi saat mereka bermain-main dengan berbagai aplikasi permainan saat mengisi waktu di luar sekolah saja, tapi juga memanfaatkannya pada jam-jam sekolah. Mengerjakan soal-soal matematika, mengarang dalam pelajaran bahasa dengan perangkat elektronik jauh lebih mengasyikkan bagi anak-anak daripada mengerjakannya dalam perangkat konvensional seperti menulis dengan pena atau pensil di atas kertas. Konvergensi pemanfaatan media teknologis sudah menjadi bagian dunia kerja mutakhir dan dunia pendidikan perlu mengikutinya jika tak ingin terjadi kesenjangan antara dunia kerja dan jagat pendidikan di Tanah Air. Oleh: M Sunyoto Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : M Sunyoto , pendidikan , Budaya

Sumber: RimaNews