BPBD NTT Imbau Masyarakat Antisipasi Bencana Alam

Kupang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur mengimbau kepada sejumlah masyarakat di NTT untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam di wilayah provinsi berbasis kepulauan itu. “Saat ini cuaca kita sedang tidak stabil. Seharusnya puncak musim kemarau itu di bulan ini (Oktober, red), tetapi sejak akhir September hingga saat ini sudah hujan lebat dan hampir setiap hari di beberapa daerah, termasuk di kota Kupang,” kata Sekretaris BPBD NTT Abraham D kepada Antara di Kupang, Selasa (11/10). Menurutnya sesuai dengan prediksi BMKG, hujan baru terjadi pada November. Namun kini hujan sudah terjadi lebih awal di beberapa daerah di NTT sejak akhir September lalu. Abraham menuturkan, daerah di Nusa Tenggara Timur tidak semuanya berpotensi terjadi bencana alam. Namun ia meminta agar setiap Kabupaten/Kota harus proaktif melakukan koordinasi dengan Pemda setempat dan selalu melaporkan perkembangan berbagai kejadian di daerahnya masing-masing. “Beberapa daerah seperti di Timor Tengah Utara, Alor, Sumba selalu menjadi langganan bencana oleh karena itu diharapkan koordinasi harus tetap berjalan,” tuturnya. Abraham menambahkan pihaknya juga gencar melakukan sosialisasi tanggap bencana kepada masyarakat, mengingat curah hujan menurut prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) NTT meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Selain BPBD, mereka juga dibantu oleh Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang telah ada berada di setiap Kabupaten/Kota di NTT dalam mengantisipasi terjadinya bencana. Masyarakat disebutnya harus berperan aktif untuk mencegah korban jiwa saat terjadi bencana. Oleh karena itu, BPBD sendiri selalu mensosialisasikan berbagai hal yang berkaitan penanggulangan bencana alam. Sementara itu terkait sarana prasarana serta logistik, menurutnya hingga kini pihaknya telah mendistribusikan ke sejumlah daerah. “Untuk sarana prasarana saat ini sudah dikirim ke sejumlah daerah bersama dengan logistik, mulai dari tenda, dapur umum, toilet, makanan siap saji untuk logistik, serta obat-obatan,” tuturnya. Namun ketika ditanya terkait apakah sudah memadai sarana prasarananya, Abraham enggan mengantakannya, sebab menurutnya semua sarana prasarana sudah didistribusikan kepada semua daerah dalam rangka mengantisipasi terjadinya bencana alam yang tidak terduga. Sementara itu terkait anggaran penanganan bencana yang diberikan kepada BPBD provinsi, setiap tahun mengalami perubahan anggaran. “Kalau untuk anggaran sudah pasti tiap tahun berbeda, namun saya belum terlalu tahu berapa perbedaannya. Tetapi yang pasti terkadang bisa mencapai Rp 8 miliar, itu untuk semuanya, buat bencana alam dan untuk pegawai,” kata Abraham. /RA

Sumber: BeritaSatu